Ketum MUI Riau Dorong Penulisan Biografi Ulama untuk Teguhkan Identitas dan Keteladanan
Ketum MUI Provinsi Riau, Prof. Dr. H. Ilyas Husti, M.A., menjadi narasumber utama dalam seminar penulisan buku Ulama Riau.
PEKANBARU — Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Riau, Prof. Dr. H. Ilyas Husti, M.A., menjadi narasumber utama dalam seminar penulisan buku Ulama Riau yang digelar oleh Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Riau, Sabtu (1/11/2025) di Dumai.
Acara ini mengangkat tema “Mengabadikan Jejak Ulama: Meneguhkan Identitas dan Keteladanan” ini dan dihadiri puluhan peserta dari pengurus MUI Riau, pimpinan MUI Siak, MUI Dumai, MUI Rohil, kalangan akademisi, peneliti, dan tokoh agama.
Dalam paparannya, Prof. Ilyas menekankan bahwa penulisan biografi ulama memiliki urgensi tinggi sebagai bagian dari pelestarian sejarah dan pembentukan identitas keislaman masyarakat Riau.
“Banyak ulama besar Riau yang jasanya luar biasa, tetapi hanya dikenal lewat cerita lisan. Padahal, mereka memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan Islam dan kebudayaan Melayu,” ujarnya.
Menurutnya, penulisan biografi tidak hanya sekadar dokumentasi sejarah, tetapi juga menjadi media pendidikan, dakwah, dan inspirasi moral.
“Dari kisah hidup para ulama, generasi muda dapat belajar tentang keikhlasan, kesederhanaan, dan tanggung jawab sosial. Nilai-nilai itu sangat relevan di tengah tantangan moral dan budaya saat ini,” tambahnya.
Prof. Ilyas juga menyebut beberapa tokoh ulama Riau yang perlu diabadikan, seperti Syekh Abdul Wahab Rokan, Syekh Ahmad Syafruddin Siak, dan Tuan Guru H. Zainal Abidin Kampar.
“Mereka adalah simbol keilmuan dan spiritualitas yang menjadi fondasi tamadun Islam di Riau. Melalui penulisan biografi, kita dapat meneguhkan kembali jati diri keislaman dan kemelayuan,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam penulisan biografi ulama di Riau adalah minimnya sumber tertulis dan lemahnya dokumentasi pesantren atau surau.
“Banyak data sejarah tersimpan dalam ingatan masyarakat. Ini berisiko hilang jika tidak segera didokumentasikan,” kata Prof. Ilyas.
Untuk itu, ia mendorong kolaborasi lintas lembaga, termasuk pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan pesantren, dalam membentuk pusat arsip digital ulama Riau.
“Kita perlu membuat gerakan sistematis agar jejak ulama terdokumentasi dengan baik, sehingga bisa menjadi sumber penelitian akademik dan bahan pendidikan Islam lokal,” tegasnya.
Acara seminar ini berlangsung interaktif dengan sesi diskusi mendalam seputar metodologi penulisan, pengumpulan data lapangan, serta upaya publikasi hasil riset biografi ulama Riau.
Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Riau berkomitmen untuk menindaklanjuti seminar ini dengan program penelitian dan penulisan buku secara berkelanjutan.
Dengan semangat mengabadikan jejak ulama, kegiatan ini menjadi langkah strategis MUI Riau dalam menjaga kesinambungan ilmu, sejarah, dan keteladanan Islam Melayu agar tidak hilang ditelan zaman.
Editor :Yefrizal