Ketum MUI Riau Tekankan Filosofi Haji Kunci Utama pada Sertifikasi Pembimbing Haji
Ketum MUI Riau, Prof. Dr. H. Ilyas Husti, M.A.memberikan materi pada Sertifikasi Pembimbing Ibadah Haji dan Umrah Angkatan I Tahun 2025 di UIN Suska Riau, Minggu (14/12/2025).
PEKANBARU - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Riau, Prof. Dr. H. Ilyas Husti, M.A., menegaskan bahwa pemahaman filosofi ibadah haji menjadi kunci utama dalam membentuk pembimbing haji dan umrah yang profesional, berintegritas, dan berakhlak.
Penegasan itu disampaikannya saat memberikan materi pada Sertifikasi Pembimbing Ibadah Haji dan Umrah Angkatan I Tahun 2025 di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau, Minggu (14/12/2025).

Di hadapan puluhan peserta sertifikasi, Prof. Ilyas menekankan bahwa haji tidak boleh dipahami sebatas rangkaian ritual fisik.
“Haji adalah perjalanan spiritual menuju Allah. Setiap rukun mengandung hikmah mendalam yang harus dipahami pembimbing agar mampu membina jamaah secara utuh,” tegasnya.

Ia menjelaskan, filosofi haji bermula dari ihram yang melambangkan penyucian diri dan kesetaraan manusia, dilanjutkan tawaf sebagai simbol bahwa seluruh aspek kehidupan harus berpusat pada ketaatan kepada Allah.
“Tawaf mengajarkan bahwa hidup tidak boleh berputar pada ego dan materi, tetapi pada nilai tauhid,” ujarnya.
Dalam sesi materi, Prof. Ilyas juga mengulas sa’i sebagai perpaduan ikhtiar dan tawakal, wukuf di Arafah sebagai puncak introspeksi dan pengakuan kehambaan, serta melontar jumrah sebagai simbol perlawanan tegas terhadap godaan setan dan hawa nafsu.
“Pembimbing haji wajib menjelaskan makna ini agar jamaah pulang dengan perubahan akhlak, bukan sekadar gelar haji,” katanya.
Kegiatan sertifikasi ini digelar UIN Suska Riau bekerja sama dengan Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia, sebagai upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia pembimbing haji dan umrah di Indonesia.
Peserta tidak hanya diuji secara teknis manasik, tetapi juga dibekali penguatan nilai spiritual dan etika pembimbingan.
Menurut Prof. Ilyas, tantangan pembimbing haji di era modern semakin berat, seiring meningkatnya jumlah jamaah dan kompleksitas pelayanan.
“Pembimbing harus sabar, ikhlas, disiplin, dan empatik. Nilai-nilai itu lahir dari pemahaman hikmah haji, bukan dari hafalan manasik semata,” ujarnya menegaskan.
Ia berharap sertifikasi ini melahirkan pembimbing haji yang mampu menjadi teladan dan pemimpin spiritual bagi jamaah.
“Haji mabrur tercermin dari perubahan perilaku setelah pulang. Di sinilah peran strategis pembimbing,” tutupnya.
Program Sertifikasi Pembimbing Haji dan Umrah Angkatan I ini menjadi langkah awal penguatan standar nasional pembimbing ibadah, sekaligus memastikan pelayanan haji dan umrah Indonesia semakin berkualitas, beradab, dan berorientasi pada pembinaan akhlak jamaah.
Editor :Yefrizal