Safari Ramadan di Masjid Luhur Haji Dasiran, MUI Serukan Islam Secara Kaffah & Maksimalkan Sholawat
Sekretaris MUI Kecamatan Payung Sekaki, yang juga anggota Komisi Ukhumah MUI Riau, Ustadz H. Sutan Syahril S.Ag., M.Di., saat Safari Ramadhan di Masjid Luhur Haji Dasiran.
PEKANBARU – Momentum bulan suci Ramadan, Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Riau menyerukan umat Islam untuk menerapkan agama secara kaffah (menyeluruh).
Pesan ketegasan ini disampaikan langsung oleh Sekretaris MUI Kecamatan Payung Sekaki, yang juga anggota Komisi Ukhuwah MUI Riau, Ustadz H. Sutan Syahril S.Ag., M.Di., saat Safari Ramadan di Masjid Luhur Haji Dasiran, Kelurahan Bandaraya, Pekanbaru, pada Sabtu (28/2) malam.

Di hadapan jamaah, Ustadz Sutan Syahril menekankan pentingnya totalitas beribadah di bulan suci. Langkah ini diwujudkan dengan menghidupkan shalat malam (Tahajud), memaksimalkan Tarawih, hingga memperbanyak sholawat.
Pengurus MUI Riau komisi Ukhuwah ini memberikan fakta spiritual tentang kehebatan sholawat sebagai garansi keselamatan umat.
"Sholawat adalah satu-satunya amalan yang pasti diterima oleh Allah menjadi pahala, terlepas dari ikhlas atau tidaknya kita saat membacanya. Minimal, kita sudah bersholawat 9 kali sehari dalam shalat lima waktu," urai H. Sutan Syaril.
"Bahkan, Allah dan para malaikat pun bersholawat untuk Nabi Muhammad SAW sebagai tanda kasih sayang. Barang siapa yang enggan bersholawat, maka ia terhalang masuk surga," tegas Ustadz Sutan Syahril.
Selain sholawat, MUI juga menyoroti keutamaan Al-Qur'an yang diturunkan pada bulan suci. Mengutip sabda Nabi, Ustadz Sutan mengingatkan bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang belajar dan mengajarkan Al-Qur'an.
Karena itu, penyuluh agama Kemenag di kecamatan Payung Sekaki juga mendorong jamaah untuk terus menghidupkan majelis ilmu dan menjadikan masjid sebagai pusat peradaban yang ramah anak melalui pendidikan agama secara berkelanjutan.
Dalam tausyiahnya, ia juga memaparkan realita tajam mengenai keangkuhan hawa nafsu yang baru mau mengakui Allah sebagai Rabb setelah dilemparkan ke dalam neraka selama 70.000 tahun.
Untuk menundukkan nafsu tersebut, puasa menjadi perisai utama. Jamaah juga ditantang untuk cerdas memburu malam Lailatul Qadar, yang nilai pahalanya setara dengan 1.000 bulan atau 83 tahun.
Ketua PC LDII Kecamatan Payung Sekaki, Reiza Fandrio Abrori, ST., MT., merespons positif instruksi MUI tersebut dengan memaparkan program konkret yang telah berjalan.
"Di setiap masjid di bawah naungan PC LDII Payung Sekaki, kami rutin menggelar pengajian Al-Qur'an dan Al-Hadist serta tausyiah agama setiap malam. Khusus pada sepuluh malam terakhir, kami memfokuskan diri melaksanakan Iktikaf untuk meraih Lailatul Qadar," ungkap Reiza.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Masjid Luhur Haji Dasiran, Yefrizal SE., turut memberikan apresiasi atas turunnya para ulama ke tengah masyarakat.
"Kami berterima kasih atas kehadiran dan penyampaian Safari Ramadan malam ini. Ini adalah wujud nyata dari pembinaan umat atau Khodimul Ummah yang menjadi tugas mulia MUI," ujarnya.
Turut hadir dibarisan jamaah malam itu antara lain Tokoh Agama H. Isnanto, Pembina LDII Payung Sekaki H. M. Zuri, serta masyarakat setempat.
Safari Ramadan ini dimulai dengan sholat Isya dan Tarawih berjamaah, dilanjutkan dengan pembacaan Kalam Ilahi (Al Quran) yang dibawakan oleh ustadz Adi dan Tausyiah agama.
Pesan dari tausiyah agama dimalam ke-11 Ramadan ini bahwa ibadah tidak boleh terhenti saat Ramadhan usai.
Tanda diterimanya amalan puasa seseorang adalah adanya perubahan positif yang berkelanjutan demi membentuk pribadi yang jujur, sabar, dan bertakwa secara kaffah.
Editor :Yefrizal